Jumat, 17 Mei 2013

Kemegahan Sebuah Rasa

Murtakibudz Dzunub - Aku tahu kamu tidaklah sempurna
Demikian juga, kamu tahu aku juga tidaklah sempurna

Meski tidak seluruhnya kelebihanku bisa menutupi kekuranganmu
Dan kelebihanmu menutupi kekuranganku

Tapi kita masih bisa berbangga, bahwa Tuhan menciptakan sebuah rasa
Rasa yang membuat kita bisa saling menerima

Jangan melihatku, melihat tentang siapa diriku
Tapi lihatlah Dia yang mencipta ku

Supaya kamu tidak pernah menyesal
Karena pernah mengenalku
Rre

Selasa, 07 Mei 2013

Rintihan Sang pemulung

Murtakibudz Dzunub - Dia terlihat sangat lelah, bajunya yang kumuh tidak pernah dihiraukannya, dia bergumul dengan debu yang tiap detik selalu menutup mukanya, kulit menghitam karena hujaman sengat matahari, peluh menetes tiada henti.

Padahal yang dia cari hanyalah tumpukan benda-benda tidak yang sudah dibuang oleh pemiliknya. Mungkin tidak berguna bagi mereka tapi sangat berguna baginya.

Mana rintihannya? Kenapa aku seolah tidak mendengarnya? Dia terlihat amat menikmati pekerjaannya? Wajahnya sumringah saat melihat truk sampah?

Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, aku coba mendekat dan mengajaknya ngobrol setelah menawarinya minuman.

"Bapak tampak bahagia dengan pekerjaan ini...".

"Sebenarnya dulu bapak sering mengeluh dengan keadaan bapak nak.. Namun akhirnya Bapak sadar, tidak ada gunanya bapak mengeluh dan meratapi nasib, apalagi meratapi pekerjaan yang sudah jelas kehalalannya".
 
Bapak tadi melanjutkan...

"Satu-satunya kesedihan Bapak itu hanya satu nak, Bapak takut andai nikmatnya rasa bersyukur ini di cabut oleh Tuhan".

***


Allah... Karuniakan kepada kami tentang nikmatnya rasa syukur.



Rre

Selasa, 02 April 2013

Nasehat Untuk Hati

Murtakibudz Dzunub - Nabi Saw, juga bersabda, “Ingatlah wadah Allah di muka bumi adalah qalbu-qalbu, maka yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah qalbu paling bersih, paling kuat dan paling lembut.”

“Temukan tanganmu bersama Allah, jangan engkau campuri dengan manusia. Kejernihanmu bersama Allah jangan engkau keruhi dengan kehidupan manusia,” Kata seorang Sufi.

“Kapankah seseorang disebut sebagai kalangan yang bersih jiwanya (Sufi)?” seorang Sufi ditanya. “Manakala tirai taubat menutup maksiat dan tirai anugerah menutup seluruh kebajikan, serta tirai Allah menutup segala hal selain Allah Swt.”jawabnya.

 
Rre

Kamis, 21 Maret 2013

Yang Ku Dapat Saat Dan Setelah Berdebat

Murtakibudz Dzunub - Aku hanya diam khusuk tanpa reaksi melihat sekelompok orang yang tengah sibuk bermujadalah (berdebat). Atas nama keilmuan mereka saling mencari pembenaran dan menyalahkan yang tidak sefaham dengan apa yang mereka yakini. Atas nama kebenaran mereka asyik ingin saling menjatuhkah satu sama lain. Atas nama ingin meluruskan aqidah yang terjadi malah ukhuwah islamiyah yang pecah belah.

Aku masih tetap diam melihat salah satu artikel yang ramai jadi bahan berdebatan, begitu juga saat beranda jejaring sosialku disuguhi aroma perdebatan yang sangat menyengat. Kata-kata kafir dan sesat begitu sangat akrab dan mendominasi disusul dengan kata-kata kasar dan saling melempar ejekan serta tawa cekaka'an (tertawa ngakak). 

Tapi sayangnya dari sekian banyak energi yang sudah mereka keluarkan [entah itu sibuk mencari-cari dalil pembenaran dsb], jarang sekali aku jumpai perkataan disetap akhir perdebatan "iya... maaf, pendapat saya yang salah pendapat anda yang benar". Hingga aku sempat berfikir ternyata sangat minim sekali kemaslahatan dalam perdebatan.

Dulu, aku adalah salah satu orang yang sangat suka berdebat tentang pemahaman agama. Karena bagiku dulu mujadalah sangat memacu adrenalin dan menantang. Tapi lambat laun, kejenuhan mulai aku rasakan. Karena saat berdebat emosi lebih menguasai dibanding hati dan merasa puas saat melihat lawan terpojok.

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, ‘Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.’ (Az-Zukhruf: 58).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Hakim).

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah salah satu menampar kegemaranku yang suka perdebatan.

Yang ku dapat saat dan setelah berdebat 

'Adalah terasa semakin jauh dari Allah' kalimat ini harus aku akui kebenarannya khususnya untuk diriku. Alih-alih ingin berdakwah menyampaikan yang hak, yang terjadi justru sebaliknya aku sering tertipu dengan ego dan nafsuku hingga tak jarang sifat ujub, riya, takabur, hasud dan sum'ah menggerogoti niat awalku. 

Kembali aku katakan pada diriku "atas nama kesalihan aku sudah menciptakan banyak kesalahan". 

Aku tidak menyalahkan mereka yang suka dengan perdebatan. Karena tidak semua yang aku rasa dan alami terjadi juga pada diri dan hatinya. Aku hanya ingin ikhtiar memilih jalan teraman untuk menghindari kemudharatan. "Fal yaqul khoiron aw liyasmut". (Hadits).

***

Sebagai seorang muslim, kita sendiri yang tahu berapa porsi masing-masing kadar keimanan. Kita yang lebih tahu apakah saat kita berdebat semakin menambah cinta kita ke Allah atau bahkan semakin menjauhkan. Jangan lakukan perbuatan-perbuatan yang kita sendiri sudah tahu akan mudharatnya, karena itu hanya akan sia-sia.


Rre

Selasa, 19 Maret 2013

Sedang Malas Ibadah?

Murtakibudz Dzunub - Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat  bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah.  Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini baik dari diri sendiri ataupun dari orang lain, “bagaimana sih caranya agar sholat kita bisa husu’? bagaimana sih caranya supaya kita bisa ihlas dalam beramal?” Dan lain sebagainya.

Tidak sulit kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tinggal buka kitab atau buku semua jawaban ada disitu. Atau yang lebih gampang  lagi tinggal search di internet.

Sekarang, ketika sudah mendapati  jawaban, seperti apa reaksi kita? “oohh… seperti itu ya tipsnya? Kapan-kapan bisa saya praktekin”.  “hemm… banyak banget tipsnya sampai capek bacanya”. “semua tipsnya kok susah-susah ya..?”.

Mungkin disinilah peran dari ‘Ilmu an-nafi’.  Yang benar-benar memberi  manfaat  bagi yang memilikinya. Karena tak jarang dari kita, ilmu hanya sebagai wacana dan bahan untuk diskusi semata. Hingga tak jarang kita tidak merasakan manisnya ilmu pengetahuan yang kita jadikan pegangan dalam kehidupan.

Ada kisah ringan yang menggerakkan hati saya, ada seorang pemuda bisa dibilang ia pandai ilmu agama. Namun satu kekurangannya yang paling mencolok dimata ibunya, ia sering mengahirkan shalat isya’ dan jarang membaca Qur’an . sang ibu tidak pernah lelah mengingatkannya untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu, dengan enteng sang anak menjawab “iya bu’.. Insya Allah mulai besok saya tidak akan mengahirkan shalat isya’ dan akan rajin baca Qur’an. Kejadian seperti itu terus berlangsung hampir satu tahun lamanya.

Hingga pada suatu hari sang ibu melihat kondisi kamarnya yang biasa pemuda tadi melakukan ibadah, “nak, coba diperluas lagi tempat ibadahmu biar lebih nyaman tidak sempit seperti itu”. Pemuda tadi pun menuruti perintah ibunya.

Subhanallah, ahirnya pemuda tadi bisa meninggalkan kebiasan buruknya dan kembali rajin baca Qur’an.

Ada hikmah apa dibalik kisah ini?

Bila kita kembalikan ke pertanyaan diatas, ternyata teori keilmuan yang dimiliki pemuda tadi belum bisa mengantarkan pada apa yang seharusnya seorang ahlul ‘ilmi lakukan, bukannya pemuda tadi tidak mahu berubah dari kebiasaan buruknya, hanya saja ia belum mampu. Dan ternyata salah satu kendala yang membuatnya seperti itu adalah kehilafannya tidak pernah memperhatikan sarana ibadah yang bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman.

Tentu saja masing-masing pribadi mempunyai  kendala tersendiri, hanya Allah lah yang bisa memperlihatkan jalan keluar kepada kita dari kemalasan ibadah.

Maka dari itu, selayaknya kita mampu menciptakan suasana kenyamanan baik kenyamanan hati ataupun “makanul ibadah” sebelum kita menghadap Rabbul ‘izzah. Yang Insya Allah, kita benar-merasakan bahwa kita sedang shalat, merasakan nikmatnya niat, merasakan kedua tangan yang biasanya berlumur dosa kita gunakan untuk mengagungkan Tuhan dalam takbiratul ihram, menghadirkan keagungan ummul kitab (surah alfatihah) yang semakin menambah rasa kehambaan dan rasa butuh kita pada Tuhan, merasakan tuma’ninah, ruku’, sujud dan lan sebagainya.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihafalkan oleh lidah, tapi tidak menyentuh –apalagi masuk– ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi orang yang memilikinya, bahkan  menjadikan pemiliknya terkena ancaman besar –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita semua– termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka.

Sebagai penutup, ada dua pertanyaan yang harus kita jawab dan kita segera perbaiki.
Kapan terahir kali kita benar-benar merasakan kenikmatan ibadah?
Kapan terahir kali kita benar-benar menikmati bacaan Qur’an dengan tidak ada perasaan gerah?

Rre